1.06.2011

Ditengah kegagalan Produksi berbagai Komoditi Pertanian, Impor Pupuk Justru Meningkat

Sementara data menunjukan makin menaiknya impor jagung, kedelai dan bahkan mulai lagi dibukanya impor beras, dengan alasan anomali iklim secara ekstrim, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan RI di Jakarta, Jumat (12/11) mengungkapkan data bahwa, Januari - September 2010, terjadi kenaikan impor pupuk ke Indonesia. Permintaan impor tertinggi itu dikarenakan, naiknya konsumsi pupuk secara langsung dan juga untuk bahan baku pabrik pupuk. Menurutnya, impor pupuk itu dibutuhkan karena ada sebagian bahan baku tidak bisa diproduksi di dalam negeri.  Sejalan dengan itu, data BPS (2010) menyebutkan, impor pupuk Januari-September 2010 tercatat sebesar US$ 1,065 miliar atau setara dengan Rp. 9,585 trilyun. Angka ini naik 77,81% dibandingkan impor pupuk, di periode yang sama tahun lalu, sebesar US$ 599,365 juta. Permintaan impor tertinggi itu dikarenakan naiknya konsumsi pupuk secara langsung dan juga untuk bahan baku pabrik pupuk.

Kondisi makin meningkatnya defisit (kekurangan) dalam memenuhi kebutuhan unsur hara pupuk, terjadi di banyak negara. Namun, bagi Indonesia, yang diimpor bukan hanya pupuk sebagai bahan dalam pertanian, namun juga hasil pertaniannya. Di tingkat internasional pun, baik jenis maupun jumlah, dari tahun ke tahun diketahui makin besar. Bagi Indonesia, yang juga produsen terbesar salah satu jenis pupuk (Urea), bagi kebutuhan  beberapa unsur hara lainnya, upaya pemenuhannya, sebagian besar masih mengandalkan impor. Sumber hara makro primer bagi pembuatan pupuk super posfat dan KCL serta hara makro sekunder dan  unsur mikro element, masih berasal dari impor. 

Bentuk pupuk sebagai barang jadi, yang diimpor, diantaranya jenis pupuk dalam bentuk Phosphates ( P2O5), kalium ( K2O), hara makro sekunder antaranya Magnesium atau kieserite ( Mg), Sulfur ( S), Calcium ( Ca) dan mikro elemen ( Fe, Zn, Mo, B, Bo). Sejauh ini pupuk, yang sepenuhnya merupakan produksi dalam negeri, hanyalah unsur Nitrogen dalam bentuk pupuk Urea  atau bentuk Diaminomethanal ( NH2) 2CO dan sebagian kecil pupuk SP dari sumber deposit tersebar dalam jumlah kecil (spot deposit) di Jawa bagian Selatan dan daerah lainnya.

Ketersediaan pupuk kimia, sebagai sumberdaya tidak terbarukan (unrenuwable) sementara, dilain pihak, penggunaannya makin meningkat, telah dan akan mendorong peningkatan harga dan kekurangan  (defisit) secara terus menerus. Bahkan ancaman defisit, antara kebutuhan unsur hara pupuk dengan ketersediaan, tanpa antisipasi yang memadai sejak saat ini diprediksi akan makin besar dimasa-masa mendatang.
Belum berjalannya konsep pemupukan spesifik lokasi, yakni teknik asupan hara berdasar kondisi kesuburan lahan di masing-masing lokasi ( spesifik lokalita), juga telah memberi sumbangan pada menaiknya kebutuhan pupuk. Pemakaian dosis pupuk pun berjalan dengan tidak bijaksana. Walaupun telah menjadi kebijakan pemerintah sejak lama, dan diyakini akan meningkatkan produktivitas tanaman sekaligus mengurangi pemakaian pupuk, petani dan pelaksana pemerintahan di lapangan pada umumnya belum menjalankan pola pemupukan spesifik lokalita tersebut.

Berbagai upaya menurunkan penggunaan pupuk kimia yang berlebih telah lama dijalankan, diantaranya dengan menyajikan pupuk urea tablet hingga pupuk majemuk tablet. Kendati diketahui, kemudian dirasakan, manfaatnya pupuk tablet bagi penghematan dosis dan biaya pemupukan kebun dan tanaman, namun dirasakan kurang praktis, hanya sebagian kecil petani yang mau menjalankan teknik pemupukan dengan tablet ini. 

Bahkan lebih jauh, kondisi yang ada memperlihatkan kalau sebagian besar petani Indonesia, diluar sebagian kecil pengusaha perkebunan dan perusahaan agribisnis, masih memiliki ketergantungan bahwa pupuk adalah urea ( urea minded). Disamping ketergantungan pada jenis dan merk pupuk tertentu, umumnya petani dan sebagian pengusaha agribisnis belum memiliki akses secara memadai terhadap penguasaan data dan informasi kesuburan lahan tempat pengusahaan pertaniannya. Padahal, tanpa pemupukan spesifik lokasi, untuk mengejar produktivitas yang sama akan diaplikasikan para petani, rataan asupan dosis pupuk, yang makin meningkat.. Dan, sejalan dengan itu pencemaran lingkungan tanah pertanian pun makin tinggi. 

Bertambahnya lahan kritis tercemar pupuk kimiawi akibat dosis tinggi, berpindahnya bahan organik ke kota, menjadi sampah organik, tanpa pengembalian dari material sisa konsumsi manusia tersebut ke sistim pertanian dan kebun serta, pengalih fungsian lahan akan mengancam pada produksi pangan dan hasil pertanian nasional, di masa sekarang dan,  juga dimasa datang. Fenomena impor beras, meningkatnya impor jagung, kedelai, buahan dan aneka bahan pangan lainnya menunjukkan makin terancamnya ketahanan pangan Indonesia. Sayang dan anehnya, ditengah  kegagalan produksi berbagai komoditi pertanian, impor pupuk justru meningkat.   +)

4 komentar:

  1. Anonim5:55 PM

    Gagal panen dan gagal tanam karena curah hujan rendah mengakibatkan 1,6 juta penduduk di 481 desa dari 201 kecamatan pada 20 kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur terancam kelaparan tahun ini.

    BalasHapus
  2. Anonim5:56 PM

    Menteri Pertanian Suswono mengatakan pada tahun ini seluas 100 ribu hektar lahan sawah di Indonesia mengalami gagal panen. Dia memperhitungkan apabila rata-rata panen setiap hektar 5 ton maka puso tersebut menyebabkan kehilangan sebanyak 300 ribu ton gabah kering giling.

    BalasHapus
  3. Anonim5:58 PM

    Seperti diketahui, tahun 2010, pemerintah mengimpor beras kurang lebih 1,3 juta ton untuk mengamankan pasokan beras di akhir tahun minimal sampai 1,5 juta ton. Pemerintah juga gencar melakukan operasi pasar beras untuk meredam kenaikan harga beras.

    BalasHapus
  4. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai Ditengah kegagalan Produksi berbagai Komoditi Pertanian, Impor Pupuk Justru Meningkat.
    Saya merasa miris dengan keadaan tersebut, ketika produksi sedang dalam bahaya, malahh impor pupuk meningkat. Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai Ekonomi Pertanian yang bisa anda kunjungi di Ekonomi Pertanian

    BalasHapus